PENGATURAN

Lanjut

Selasa, 07 Juli 2009

CONTOH KTI AKBID

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di indonesia sangat mustahil jika ingin melihat peran pria dalam kesehatan reproduksi. Jangankan menjalani dengan baik sebagian para suami di indonesia bahkan belum faham benar apa yang disebut dengan istilah kesehatan reproduksi. 90% dari 27 juta program KB yang berjenis kelamin wanita selama lebih dari 3 dasawarsa ini adalah turunnya total fertilife rate JFR hingga 2,78 dari semula mencapai 5,6 (1971) selama masa itu pula dipundak sebagian besar perempuan indonesia terletak seputar kesehatan reproduksi keluarga. Peran dan tanggung jawab kesehatan reproduksi masih didominasi oleh kaum perempuan. (http://www.slbcenter.payakumbuh.net).

1

Kurangnya kesadaran pria dalam hal kesehatan reproduksi memang tidak terjadi begitu saja. Ujung permasalahan dari semua itu adalah faktor budaya yang justru memanjakan suami, maksudnya perempuan adalah pendamping setia yang sudah selayaknya bertanggung jawab soal kesehatan reproduksi itu sendiri. Sedangkan hak reproduksi itu sendiri adalah hak seseorang untuk mempunyai kehidupan seks yang memuaskan dan aman. Mereka memiliki kemampuan untuk bereproduksi dan kebebasan untuk menentukan apakah mereka ingin melakukannya. Dalam kontek terakhir adalah hak pria dan wanita untuk memperoleh informasi dan punya akses terhadap cara berKB yang aman, baik dan efektif yang kemudian menjadipuluhan kesehatan reproduksiyang didasari kedua belah pihak dalam rumah tangga akan berujung pada keutamaan wanita saat menjalani menjalani kehamilan dan melahirkan anak yang sehat (http://www.sibcenter.payakumbuh.net).

Kenyataannya tidak dilibatkannya suami sebagai salah satu pihak yang berkepentingan dengan reproduksi justru membuat mereka miskin informasi dalam sebuah penelitian, ditemukan suami-suami yang melarang pemakaian IUD untuk istri mereka. Mereka beranggapan IUD atau spiral dapat mengurangi kenikmatan dalam melakukan hubungan. 14% istri yang meminta suaminya untuk memakai metode kontrasepsi pria, tapi hanya sebagian kecil saja yang bersedia. Pasalnya vasektomi sering dianggap dapat mengurangi kemampuan seksual, sedangkan kondom membuat hubungan seksual menjadi hambar (http://www.sibcenter.payakumbuh.net).

Petugas kesehatan juga jarang melibatkan suami, dalam konsultasi kesehatan terutama dalam perawatan kehamilan dan melahirkan anak. Mereka merasa cukup berinteraksi hanya dengan istri. Bahkan dari 50 dokter yang mengirimkan laporan bulanan, kondom hany ditawarkan pada 16% klien IRT yang menderita PMS. Tentu saja hal ini berbahaya jika suami dan pria pada umumnya kurang menyadari betul hak dan kewajibannya dalam kesehatan reproduksimeskipun demikian banyak suami yang merasa malu membicarakan masalah kesehatan reproduksi atau KB karena, mereka menganggap masalah ini hanya milik perempuan akibatnya suami kadang merasa untuk mengungkapkan kecemasan mereka seputar kemungkinan komplikasi, transportasi ke RS atau biaya RS sebagian besar suami tidak percaya rasa sakit dan gejala lain yang dialami istri dalam menjalani kehamilan dan persalinan. Seharusnya mendapat perhatian serius dari para suami. Padahal menjalani kehamilan, melahirkan, melakukan aborsi bahkan memakai alat kontrasepsi bukannya tidak beresiko untuk para istri dan perempuan. Jika disimak hasil laporan dari survei kesehatan dan demografi indonesia (SAKI) 1997. Indonesia memegang peringkat pertama di ASEAN dalam hal tingginya AKI, yakni 334/100.000 kelahiran hidup (http://www.sibcenter.payakumbuh.net).

Sangat memprihatinkan bila terdapat keadaan dimana selama ini penderitaan istri dalam kehamilan dan melahirkan dianggap sebagai suatu yang wajar oleh suami. Akibatnya tidak pernah ada pembicaraan yang serius tentang keluhan yang dialami dan berakibat pada terlambatnya pertolongan yang minim, tak jarang lagi kendala yang paling besar dan serius yang menghampiri pasangan dalam rumah tangga adalah soal minimnya komunikasi, dua pribadi yang berbeda jika disatukan tanpa pendekatan yang kuat berupa komunikasi yang kuat pula maka akan menimbulkan berbagai masalah termasuk diantaranya ketidaktahuan akan pemenuhan hak dan kewajiban reproduksi yang harus dilakukan suami (http://www.sibcenter.payakumbuh.net).

Mengajak pria menggunakan kontrasepsi lebih sulit dibandingkan perempuan. Ada banyak kontarsepsi tapi untuk pria hanya ada dua yaitu kondom dan vasektomi. Sulitnya mengajak pria menggunakan alat kontrasepsi dan itu disebabkab oleh beberapa faktor “pertama, budaya masyarakat Indonesia masih banyak suami yang mengerakkan urusan alat kontrasepsi pada istri. Disamping itu adanya anggapan banyak anak banyak rezeki dan pria merasa lebih jantan setiap kali istrinya melahirkan, masih diyakini sebagian masyarakat. Faktor lain, ketidaktahuan atau kurannya informasi yang memadai mengenai alat kontrasepsi. Pada pria disini masalah gender belum juga dipahami secara utuh, kedua adanya pendapat keliru banyak beredar dimasyarakat bahwa divasektomi seorang laki-laki tidak punya keinginan untuk melakukan hubungan seksual. Padahal dengan vasektomi pria masih mempunyai libido dan tetap mngeluarkan cairan, hanya saja jumlahnya berkurang 15 % benih atau seperma yang diproduksi buah zakar tidak bisa lagi keluar. Sedangkan air mani yag dijumlahnya 85 % masih keluar karena diproduksi kantung mani (http://www.sibcenter.payakumbuh.net).

Padahal UU No 10/ 19992 memasyarakatkan tentang kesesuaian suami istri dalam pengaturan kelahiran dan cara yang dipakai dengan proses komunikai yang baik. Berdasarkan data kesehatan yang ditulis Irwanto dkk (1997) dari 667 istri 2,4 % diantaranya memilih kontrasepsi tanpa mengikut sertakan suami. Di Sumatera Selatan 65 % istri memutuskan sendiri kontrasepsi mana yang akan dipakai. Sedangkan suami hanya menyetujui keputusannya. Hal yang sama terjadi pada 47 % para istri di propinsi Lampung. Bukan hanya itu penolakan suami terhadap kontrasepsi yang mau dipakai istripun masih ada yakni 16 % dari para istri berusia 15-29 tahun yang lainnya adalah 1 % dari 667 istri yang dinyatakan mengaku terpaksa menggunakan alat kontrasepsi yang dipilih suami (http://www.sibcenter.payakumbuh.net).

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas penulis merumuskan masalah sebagai berikut “Apakah penyebab suami tidak menggunakan alat kontrasepsi”

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab suami yang tidak menggunakan alat kontrasepsi di kelurahan Bandar Selamat tahun 2009

1.3.2 Tujuan Khusus

  1. Untuk mengetahui faktor eksternal penyebab suami tidak menggunakan alat kontrasepsi berdasarkan

- Sumber informasi

- Lingkungan

  1. Untuk mengetahui faktor internal penyebab suami tidak menggunakan alat kontrasepsi berdasarkan

- Umur

- Pendidikan

- Riwayat Pengetahuan

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini dapat kami kemukakan sebagai berikut:

1. Untuk memberikan pengetahuan pada peneliti tentang faktor-faktor penyebab suami tidak mengunakan alat kontrasepsi

2. Memberika masukan kepada Institusi Pendidikan AKBID Sehat Medan tentang referensi mengenai faktor-faktor penyebab suami tidak menggunakan alat kontrasepsi

3. Sebagai masukan bagi tenaga kesehatan agar lebih memperhatikan pelayanan KB khusunya dalam memberikan informasi dan edukasi mengenai kontrasepsi

6


BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Akseptor Kontrasesi pada Pria

2.1.1 Pengertian

Akseptor adalah pemakaina alat kontrasepsi atatu orang yang mengikuti Program Keluarga Berencana (KB), kontrasepsi itu sendidir adalah usaha-uasaha untuk mencegah terjadinya kehamilan. Usaha-uasaha itu dapat bersiat sementaradan dapat bersifat permanen (Prawirohardjo, 2002).

Kondom merupakan selubungan atau karet tipis yang dipasang pada penis sebagai tempat penampungan air mani yang dikeluarkan pria pada saat senggamasehingga tidak tercurah pada vagina. Bentuk putting ada kelebihannya yaitu bahwa putting pada ujung kondom tersebut dapat menampung sperma setelah ejakulasi (Suratu, dkk,2088: 33).

2.1.2 Jenis-Jenis atau Tipe-Tipe Kondom

Ada beberapa jenis kondom, sebagai berikut:

  1. Sebagian besar kondom terbuat dari karet latek halus dan berbentuk slinder bula. Pada umumnya panjang 15-26 cm, tebalnya 0,03-0,08 mm, garis tengah sekitar 3,0-3,5 cm dengan satu ujung buntu yang polos atau berpentil dan dipangkal yang terbuka dan bertepi bulat.
  2. Sebagai usaha untuk meningkatkan akseptabilitas telah diperkenalkan v ariasi kondam yang berpelumas, mengandung spermatiside, berwarna, memiliki rasadan beraroma.
  3. Tersedia kondom anti alergi yang terbuat dari karet lateks dengan tipe rendah residu dan tidak diplarubirasi.
  4. Kondom yang lebih tebal dan melebihi standart dipasarkan terutama untuk hubungan intim peranus pada pria homo seks untuk memberikan perlindungan tambahan terhadap penularan HIV AIDS (surotun SKM, dkk, 2008 = 32-33)

2.1.3 Keuntungan Menggunakan Kondom

  1. Murah dan dapat dibeli secara umum
  2. Tidak ada persyaratan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan
  3. Tidak memerlukan pengawasan khusus dari tenaga kesehatan
  4. Mudah cara pemakaiannya.
  5. Tidak mengurangi kenikmatan bersenggama
  6. Tingkat proteksi yang cukup tinggi terhadap infeksi menular seksual
  7. Efektif jika digunakan secara benar dan konsisten
  8. Tidak mengganggu produksi ASI (Suratun SAM, dkk, 2008 : 32-33)
  9. Pria ikut serta aktif dalam program KB (Hartanto, 2004: 60).

2.1.4 Kerugian Kondom.

  1. Efektifitas tidak terlalu tinggi
  2. Cara penggunaan sangat mempengaruhi keberhasilan kontrasepsi
  3. Agak mengganggu hubungan seksual (mengurangi sentuhan langsung)
  4. Pada beberapa klien dapat menyebabkan kesulitan untuk mempertahankan ereksi
  5. Harus selalu tersedia setiap kali berhubungan seksual
  6. Beberapa klien malu untuk membeli kondom ditempat umum
  7. Pembuangan kondom bakal menimbulkan masalah dalam hal limbah (prawirohardjo, 2003 MK 18)

2.1.5 Indikasi Kondom.

  1. Semua pasangan usia subur yang ingin berhubungan seksual dan belum menginginkan anak atau kehamilan
  2. Pria yang mempunyai penyakit genetaria
  3. Sensitivitas penis terhadap sekret vagina
  4. Ejakaluasi peramatur (Hartanto, 2004: 61)

2.1.6 Kontra Indikasi Kondom

a. Apabila secara psikologi pasangan tidak dapat menerima metode ini

b. Malformasi penis

c. Apabila salah satu dari pasangan alergi terhadap lateks (Suratin Skm, dkk, 2008:33)

2.1.7 Efek Samping Kondom Dan Cara Penanggulangannya

a. Kecewa karena gagal (bocor) atau alergi namun jarang terjadi

b. Cara penanggulangannya.

- Anjurkan cara pemakaiannya yang benar

- Ganti cara atau metode kontrasepsi lain. (Suratin Skm, dkk, 2008:34)

2.2 Vasektomi

2.2.1 Pengertian

Vasektomi adalah satu-satunya cara strelisasi pria yang diterima. Sampai saat ini vasektomi harus dibedakan dengan Kebiri (pengambilan kedua testis) karena dengan vasektomi perjalanan sperma dari testis kedunia luar yang diputus, tepatnya dengan menolong dan mengambil sebagian vardeferen. Seseorang yang menjalani vasektomi masih mengeluarkan semen tapi bebas dari sperma (spermatozoa). Ia masih mempunyai keinginan berhubungan seksual (libido) secara normal, bahkan potensi dan kepuasannya pun tidak berubah. Indikasi MOP pada dasarnya sama dengan indikasi MOW kecuali indikasi Obstretis, karena kehamilan seseorang istri tidak mempengaruhi kelelahan seorang laki-laki. Indikasi medis biasanya berhubungan dengan pencegahan inveksi testis (Orchitic) misal pada saat akan dilakukan operasi prostalektomi. (HR Siswosudarmo:57)

2.2.2 Penyesalan

Sebagaiman pada tubektomi adalah salah satu hal yang harus di antisipasi dengan cermat, konseling yang baik , pertimbangan yang cermat, pelaksanaan operasi yang tidak tergesah-gesah dapat mengurangi kemungkinan adanya penyesalan. (HR. Siswosudarmo:57)

2.2.3 Keuntungan Vasektomi

Cara ini sangat efektif dan merupakan operasi kecil saja.

  1. Tidak ada mortalitas
  2. Morbiditas sangat kecil sekali
  3. Pasien tidak perlu dirawat di RS
  4. Dilakukan dengan anastesi lokal/ atau pembiusan sotempat dan berlangsung sekitar 15 menit
  5. Sangat efektif karena dapat dicek kepastiannya dilaboratorium
  6. Tidak menganggu frekuensi hubungan seks selanjutnya. (Suratun Skm, 2008:112)

2.2.4 Kerugian Vasektomi

Pendarahan merupakan infeksi yang mungkin terjadi, seperti juga tubektomi. Cara ini permanen dan mudah untuk menyabung kembali sehingga keputusan untuk menerima vasektomi harus dupertimbangkan dengan baik dan bukan atas desakan atau bujukan pihak lain. Pergerakan dapat terjadi bila motivasi datang dari klien dan keluarga sendiri. Kalau pada tubektomi, wanita menjadi steril segera sesudah di operasi, maka pada vasektomi, sterilasasi pada laki-laki baru tercapai setelah 15-20 kali ejakulasi atau kira-kira 3 bulan. (Siswosudarmo :58).

2.2.5 Perawatan Tanpa Operasi

Klien diminta istirahat kira-kira 30 menit sebelum daperbolehkan pulang. Luka operasi harus dijaga kering selama paling tidak 2 hari, jangan mengangkat beban berat selam 3 hari, klien harus menggunakan pakaian longgar, bersih atau memakai sarung, skiotum mungkin sedikit bengkak dan nyeri bila terjadi pasien cukup minum aspirin atau analgetiklainnya supaya ia tertidur. Bila bengkaknya berlebihan atau terjadi pendarahan, mengeluarkan darah dan nanah panas atau nyeri sekali, maka ia harus datang kedokter atau pusat pelayanan kesehatan terdekat.hubungan seks boleh dilakukan kembali setelah 3 hari asalkan ia merasa sehat dan tidak ada keluhan apa-apa. Klien harus diberitahu untuk menggunakan kondom sampai ejakulasi sebanyak 15-20 kali. Bila waktu menutup skiotum digunakan benagn sutra, benang harus diangkat. Bila klien menginginkan sterilisasiny ia dapat memeriksakan semua setelah waktu 3 bulan. (HR. Siswosudarmo :6)

2.2.6. Faktor yang Menyebabkan Suami tidak Melakukan Kontap (Vasektomi)

  1. Pria lebih tertarik untuk menunjukkan kejantanannya daripada ikut bertanggung jawab dalam perencanaan keluarganya
  2. Pria takut bahwa tindakan kontap pria akan melukai kehidupan seknya
  3. Menyamakan tindakan kontap pria dengan pengebirian (kastrasi)
  4. Tersedianya metode kontrasepsi baru lain
  5. Prosedur-prosedur baru yang membuat kontap wanita menjadi lebih aman dan lebih muda dikerjakan dibandingkan sebelumnya (meskipun masih tetap lebih kompleks dari pada kontak pria).
  6. Mina yang kurang dari petugas Keluarga Berencana, yang umumny terlatih dalam bidang kesehatan Ibu dan Anak
  7. Angka perceraian yang meningkat (Hartanto, 2004:307).

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1. Lokasi Penelitian dan Waktu

3.1.1. Lokasi

Penelitian ini dilakukan di kelurahan Bandar Selamat Medan tahun 2009. adapun alasan pemilihan di lokasi ini adalah:

1. Kurangnya pengetahuan suami tentang alat kontrasepsi

2. Belum pernah dilakukan penelitian ditempat tersebut

3.2.2. Waktu

Penelitian ini dilakukan selama 6 bulan, yaitu dari bulan Januari sampai bulan Juni yang dimulai dari bebrapa proses. Meliputi: pengajuan judul, penelusuran kepustakaan, bimbingan proposal, penyiapan izin lokasi, seminar proposal, penelitian bimbingan, hasil penelitian dan sidang komprehensif.

3.2. Desain Penelitian

Penelitian ini bersifat Deskriftif, yaitu faktor-faktor penyebab suami tidak menggunakan alat kontrasepsi di Kelurahan Bandar Selamat Periode 2009-2010. Dengan menggunakan rancangan Cross-Sectional, yaitu pengukuran terhadap Varoabel Independen dan Variebel Dependen dilakukan dalam waktu yang bersamaan. (Hidayat, 2007 : 56)

13


3.3. Populasi dan Sampel.

3.3.1 Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas suatu objek/subjek yag mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. (Sugiono, 2008). Populasi dalam penelitian adalah seluruh pria usia subur yang tidak mau menggunakan alat kontrasepsi di Desa Bandar Selamat Periode 2009

3.3.2 Sampel

Sampel adalah sebagian yang diambil dari populasi dan dianggap dapat mewakili seluruh populasi (Hidayat, 2005 : 68). Metode pengambilan sample adalah total sampling (seluruh populasi dijadikan sample)

Sektor Internal

- Umur

- Pendidikan

- Pengetahuan

3.4. Kerangka Konsep.


3.5. Variabel Penelitian dan Defenisi Operasional.

3.5.1. Variabel Penelitian

Dalam penelitian ini terdapat 2 variabel, yaitu :

1. Variebel Independen (variabel bebas)

Merupakan variabel yang menjadi penyebab perubahan atau timbulnya variabel Dependent. Dengan kata lain, variabel ini bebas mempengaruhi variabel lain (Hidayat, 2007 : 80).

2. Variabel Dependent (Variabel Terikat)

Merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena variabel bebas. Dalam penelitian ini, variabel dependennya adalah suami tidak menggunakan alat kontrasepsi (Hidayat, 2007 : 86).

3.5.2. Defenisi Operasional

Adalah mendefenisikan variabel secara operasional berdasarkan karakteristik yang diamati memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena.

Defenisi Operasional :

a. Umur : usia suami dari lahir sampai dilakukan penelitian

b. Pendidikan : jenjang penelitian formal

c. Sumber Informasi : segala situasi yang didapat dari responden melalui media

d. Pekerjaan : kegiatan yang dilakukan suami dan menghasilkan upah

e. Lingkungan : wilayah dimana responden tinggal

3.6. Pengumpulan Data dan Tekhnik Analisis Data.

3.6.1. Metode Pengumpulan Data.

Dalam penelitian ini, metode yang dipakai dalam pengumpulan data adalah :

a. Data Primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari responden menilai Kuesioner yang dibagikan.

Jenis kuesioner yang digunakan adalah kuesioner berupa pertanyaan tertutup. Sehingga responden hanya perlu memberi jawaban berupa tanda silang pada jawaban yang telah disediakan

b. Data Skunder, yaitu data yang diperoleh dari rekan medik

3.6.2. Tekhnik Analisa Data

Analisa data dilakukan dengan mengklarifikasikan data menurut variabel an indikator penelitian dan disajikan dalam bentuk tabel-tabel distribusi frekuensikemudian dicari besarnya presentase untuk masing-masing jawaban responden dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

ƒ

P = ― X 100%

n

Keterangan :

P : Persentase responden

f : Jumlah responden yang memberikan jawaban benar

n : Jumlah soal (Budiarto, 2002 : 37)

Ada 3 kategori yang dipakai untuk hasil penelitian ini yaitu :

1. Baik, jika pendapat responden >75%

2. Cukup, jika pendapat responden 60-75%

3. Kurang, jika pendapat responden <60% (Ari Kunto, 2002)

3.7. Pengolahan Data.

a. Editing

Adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang diperoleh atau dikumpulkan. Editing dapat dilakukan pada tahap pengumpulan data atau setelah data dikumpulkan (Hidayat, 2007 : 121)

b. Coding.

Merupakan pemberian kode numerik atau angka terhadap data yang terdiri atas beberapa kategori

c. Tabulating

Untuk mempermudah pengolahan dan analisa data serta pengambilan kesimpulan maka data dapat dimasukkan kedalam tabel Distribusi Frekuensi.

3.8. Etika Penelitian

3.8.1. Informed Consent.

Hal ini diberikan sebelum melakukan penelitian,berupa lembar persetujuan untuk menjadi responden dengan tujuan agar subjek mengerti maksud dan tujuan peneliti dan mengetahui dampaknya. Jika subjek bersedia, maka peneliti harus menghormati hak subjek (Hidayat, 2007 : 93)

3.8.2. Anonimity (Tanpa Nama)

Hal ini menjelaskan bentuk penulisan kuesioner dengan baik perlu mencantumkan nama pada lembar pengumpulan data, hanya menuliskan kode pada lembar pengumpilan data (Hidayat, 2007 : 96)

3.8.3. Confidentiality (Kerahasiaan)

Kerahasiaan menjelaskan masalah-masalah responden dengan memberikan jaminan kerahsiaan dari hasil penelitian. Baik informasi maupun masalah-masalah lainnya. Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaan oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset (Hidayat, 2007:95).

0 komentar:

Poskan Komentar